Trilogi Supermoon Dan Mitos Perihelion

Layaknya suatu lakon yang hidup pada dalam pita layar lebar, fenomena kehadiran trilogi supermoon yang akan mencapai titik puncak di tanggal 31 Januari 2018 pun mendapat sorotan yang begitu hebat, serta ditunggu kehadirannya oleh jutaan pasang mata. Mengapa trilogi? Karena memang fenomena kehadiran bulan sempurna tersebut sudah terlihat dalam periode yang berdekatan; 3 Desember 2017 dan 2 Januari 2018 silam.

Begitu megahnya bulan purnama total yang akan menghampiri bumi dalam dua hari lagi, hingga para ilmuwan pun memberi julukan Super Blue Blood Moon! Sebuah nama yang cukup menyeramkan. Bukan tanpa alasan, karena dua hari lagi bulan akan berada pada titik perigee alias titik terdekat dengan bumi dengan jarak +- 358.993 km. Dan yang membuat fenomena ini layak untuk disaksikan adalah; kejadian ini terakhir kali terjadi pada 152 tahun yang lalu.

Perigee terdekat bulan penuh tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari yang terjadi di dekat apogee orbit bulan. Namun bukan itu yang membuat daya tariknya begitu luar biasa, melainkan mitos dan beberapa fakta terkait kondisi bulan tersebut yang begitu worth it untuk di ulas. Saya tidak akan membicarakan tentang bagaimana kemudian kehadiran supermoon dapat membuat taring seseorang memanjang (werewolf), atau fenomena-fenomena lain dimana orang-orang kemudian berubah menjadi gila. Bukan itu!

Melainkan kehadiran supermoon yang kerap dikaitkan dengan bencana. James Rotton dalam studinya yang berjudul “Much Ado About The Full Moon: A Meta-Analysis of Lunar-Lunacy Research” bahkan mempelajari serangkaian kejadian-kejadian aneh. Seperti maraknya kecelakaan lalu lintas dan betapa orang-orang menjadi ceroboh. Menurutnya, hal itu terjadi karena bulan purnama memengaruhi kelenjar pineal yang berfungsi memproduksi serotonin; hormon yang memengaruhi pola bangun/tidur seseorang.

Banyak orang-orang yang mengaku pribadinya menjadi aneh saat terjadi bulan purnama.

Seorang teman mengatakan bagaimana fenomena tersebut sangat mempengaruhi mood-nya, seperti BM (banyak mau; red), serta bawaan-bawaan lain yang berhubungan dengan emosi. Yang lantas memaksa gue untuk berkata dengan setengah bercanda; bahwa datang bulan itu memang kerap membuat pusing kaum pria. Hehe.

Trilogi Supermoon

Source: mashable.com

Malapetaka Bulan Bulat?

Banyak teori yang mengaitkan kehadiran supermoon dengan aktifitas pasang surut air laut yang kemudian menyebabkan gempa besar. Bukan tanpa alasan, pasalnya salah satu bencana terbesar di Abad ke-21 yaitu gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004, terjadi 2 pekan sebelum datangnya supermoon. Begitu pula yang terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Gempa berkekuatan 9 skala Richter menghancurkan kawasan utara Negeri Sakura, memicu tsunami yang menyapu seluruh kawasan pesisir pantai Pasifik di wilayah Tohoku.

Begitu pula yang terjadi pada 22 Februari 2011, gempa berkekuatan besar mengoyak Kota Christchurch, Selandia Baru. Tak terlalu jauh dari peristiwa supermoon yang muncul dua minggu setelahnya. Pada tahun 1964, tepatnya di tanggal 28 Maret, gempa hebat dengan kekuatan 9,2 skala Richter menghantam kota Alaska. Dan belum lama ini, pasca supermoon episode kedua (3 Januari 2018), Alaska kembali di guncang gempa senilai 7,9 skala Richter. Beberapa hari kemarin pun, Jakarta dan sekitarnya di landa gempa selama tiga hari berturut-turut.

Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti atau memprovokasi, karena memang banyak ilmuwan yang masih memandang kejadian bencana di dekat fenomena supermoon hanyalah kebetulan belaka alias mitos. Dan gue gak ingin berkutat terhadap spekulasi tersebut, melainkan hanya ingin mengajak kita untuk selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ‘mungkin’ akan terjadi.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, fenomena yang mungkin baru akan terjadi lagi 150 tahun yang akan datang ini, menurut gue, patut untuk kita simak. Entah sebagai perenungan kontemplatif, atau sekadar selebrasi ala millenial jaman now. Menurut data yang gue himpun dari berbagai sumber, ada beberapa waktu yang tepat untuk menyaksikan si Super Blue Blood Moon beraksi, yaitu;

Awal gerhana parsial terjadi pada pukul 18.48 WIB
Awal gerhana total terjadi pada pukul 19.52 WIB
Puncak gerhana terjadi pada pukul 20.30 WIB
Akhir totalitas terjadi pada pukul 21.08 WIB
Akhir gerhana terjadi pada parsial pukul 22.11 WIB

Selamat menyaksikan!

Total 2 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

Comments

comments