Sederhana Itu Bahagia, Begitu Katanya

Sederhana Itu Bahagia, Begitu Katanya

Hidup sederhana itu bahagia, at least begitu katanya. Kemudian masalahnya, akan menjadi kurang fair manakala falsafah tersebut keluar dari lisan seseorang yang sudah merasa cukup dengan kesuksesan dan tidak kekurangan. Seperti katakanlah; Bill Gates atau Warren Buffett. Lantas bagi manusia yang masih ketar-ketir saat memikirkan rencana pengeluaran di akhir bulan, seperti gue, harus gimana dong? 

Jadi sekitar beberapa hari lalu gue mengunduh sebuah film dokumenter yang berjudul Minimalism: A Documentary About the Important Things. Tadinya gue berpikir it’s gonna be boring seperti layaknya film-film dokumenter lainnya. Menit demi menit berlalu, dan tanpa terasa udah hampir setengah durasi gue tonton, dan ternyata filmnya keren banget, ya ini buktinya gue sampai nulis di blog yang tulisannya aja jarang-jarang. Hehe.

Dokumenter yang berpusat pada dua orang tokoh (sahabat), Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus, mantan broker di Wall Street yang sangat sukses di usia muda, namun karena satu dan lain hal, mereka merasa bahwa hidupnya tidak bahagia dengan sejumlah materi yang berhasil mereka dapat. Singkat cerita mereka memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan mereka, dan memulai kehidupan biasa dengan cara-cara yang sederhana. And they are happy with it!

Sorry sama review yang ala kadarnya, karena memang toh gue bukan mau me-review film ini. Buat yang penasaran, cek aja trailer-nya berikut ini:

Kalau di simak dari judulnya, A Documentary About The Important Things, seolah memang nilai itulah yang ingin disampaikan. Bahwasanya kita harus benar-benar bisa memilah hal-hal yang paling penting dalam hidup, bukan dengan semua hal yang kita anggap akan membawa kebahagiaan namun nyatanya malah justru sebaliknya. Sebagian besar hal yang kita anggap penting tersebut celakanya terletak pada kemasan material. Seperti misalnya gadget; seberapa banyak sih yang kita punya? Bukankah memiliki satu buah saja sudah cukup?

Atau mobil misalnya. Meskipun kita mampu, tapi bukan berarti semua anggota keluarga di dalam rumah harus memilikinya masing-masing satu. Atau pakaian yang kita kenakan. Atau perabotan rumah tangga. Berapa banyak yang kita beli hingga akhirnya perabotan-perabotan yang sebenarnya masih layak pakai jadi tidak terpakai? The point is janganlah hidup bermewah-mewah meskipun kita mampu mewujudkannya. Karena bukan itu yang menjamin kebahagiaan seseorang, menurut film ini. Dan entah kenapa gue setuju.

Dalam satu kesempatan, pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, pernah ditanya terkait penampilan yang selalu sederhana bahkan cenderung memakai pakaian dengan warna dan model yang itu-itu saja. Padahal dia merupakan milyader terkaya nomor empat di dunia. Mark pun menjawab; “Dalam hidup saya, goals-nya adalah untuk menjadi kaya, bukan untuk terlihat kaya”. Sebuah jawaban yang cukup makjleb dan menohok yang gue rasa patut untuk jadi bahan perenungan.

Sebegitukah tolak ukur kebahagian duniawi kita?

Berapa banyak diantara kita yang rela mendowngrade kebutuhan makan demi gaya hidup? Atau memiliki gadget paling kekinian, dengan cara mencicil setiap bulan. Bahkan tidak jarang, di akhir bulan duit gajian langsung menguap untuk membayar tagihan demi tagihan yang sepertinya tidak pernah berakhir. Itu gue banget jaman dulu. Pengen banget kelihatan mapan, sukses, dan berhasil. Padahal mah aslinya…

Gue sendiri suka miris kalo lihat situasi yang kaya gini:

Mau gaya tapi kok begini amat ya?

Di lain kesempatan gue pengen juga nulis tentang situasi di atas. Intinya, apakah sebegitu konsumtifnya kita sampai-sampai terkadang kerap mengabaikan nilai-nilai moral? Apakah mendapatkan sesuatu dengan harga murah jauh lebih penting ketimbang etika? Bahagiakah mereka yang kerap memburu produk yang seolah tidak pernah ada habisnya?

Padahal gue yakin, mereka-mereka yang rela antri berjam-jam bahkan sampai terlibat kericuhan bukanlah orang yang kekurangan sepatu untuk di pakai.

Nah, balik ke cerita di awal mengenai film Minimalism, sederhana itu bahagia, begitu katanya mereka-mereka yang sudah menjalani pola tersebut. Ada satu hal lagi yang gak kalah penting, yaitu tagline: “Love People. Use Things. The Opposite Never Works.”

Yang di ‘pakai’ itu ya barang namanya, bukan orang. Sebab orang itu hanya untuk di cintai. Jangan kebalik. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Jadi benda mati serupa gadget itu bukanlah segala-galanya yang harus dicintai. Belajar untuk gak merasa mati gaya kalau kalau ketinggalan gadget itu yang susah. Nah khusus yang ini, gue sendiri masih berjuang untuk melawan dominasi teknologi kecil nan canggih tersebut sebenarnya.

Trus apa korelasinya antara hidup bahagia dengan barang-barang yang secukupnya (sederhana) saja? Simpelnya sih gini, kalau kita memiliki banyak barang maka kecenderungan kita untuk selalu menambah atau mengupgrade barang tersebut akan semakin besar, dan itu yang sebenarnya membuat kita tertekan sehingga merasa tidak bahagia. Begitu pun sebaliknya. Bukankah di dalam ajaran agama pun kita dilarang untuk berlebih-lebihan terhadap sesuatu?

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

Comments

comments