socmed-conv

Komunikasi Era Cyberspace

Mari kita lupakan sejenak tumpukan kertas surat yang berantakan. Atau dering telepon putar yang bisingnya dapat membuat kulit kepala menjadi pusing. Sekarang ini jamannya digital bro! 

Dahulu pada era 90-an, saya mengenal istilah digital yang hanya mengacu pada perangkat televisi terbaru dengan pengaturan jarak jauh [remote]. Tanpa disangka-sangka, beberapa tahun kemudian, penggunaan kata digital sudah merambah ke berbagai perangkat kehidupan. Mulai dari akses informasi hingga fungsi dan peran komunikasi.

Perkembangan internet sebagai ruang publik memang sangat berdampak terhadap dunia komunikasi dewasa ini. Dengan para pengguna yang sudah tidak dibatasi hanya milik orang dewasa saja, bahkan anak-anak sekolah dasar sudah mulai memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengekspresikan diri mereka di dalam ranah publik. Saat ini, saya hanya ingin membahas pengertian dasar umumnya saja, bukan ingin membahas mengenai etika atau dampak sosial dari komunikasi era cyberspace tersebut.

Cyberspace. Jangan membayangkan kata tersebut dengan sebuah pesawat luar angkasa yang super canggih. Karena cyberspace disini adalah pengertian dari penggunaan internet itu sendiri. Kata “cyberspace” (dari cybernetics dan space) berasal dan pertama kali diperkenalkan oleh penulis novel fiksi ilmiah, William Gibson, dalam bukunya yang berjudul Burning Chrome pada tahun 1982.

Cyberspace. A consensual hallucination experienced daily by billions of legitimate operators, in every nation, by children being taught mathematical concepts… A graphic representation of data abstracted from the banks of every computer in the human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the nonspace of the mind, clusters and constellations of data. Like city lights, receding. [id.wikipedia]

Perkembangan teknologi informasi tersebut kemudian menciptakan ‘ruang baru’ dalam dunia komunikasi yang bersifat artifisial dan maya. Dan hingga hari ini, kehadiran ruang baru tersebut telah sukses mengalihkan berbagai macam aktivitas kita sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja aktivitas politik, sosial, ekonomi, kultural, spiritual, bahkan aktivitas seksual!

Dunia komunikasi politik di berbagai belahan dunia pun kemudian ramai-ramai memanfaatkan fungsi cyberspace untuk menyampaikan atau menerima sebuah pesan. Tidak jarang kita lihat, pemerintah, pejabat publik, atau partai politik, mulai menganggap dunia maya sebagai komoditas utama untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan terbaru, atau sekedar ingin berbagi informasi.

Bahkan di Indonesia, sudah mulai banyak tokoh politik yang memanfaatkan komunikasi cyberspace untuk melakukan penggalangan suara pada musim kampanye. Apa alasannya? Simple, mudah, murah, dan sangat efektif untuk menjangkau pesan atau konten yang sesuai dengan karakteristik target-target tertentu.

Menarik. Karena konsep cyberspace dapat memberikan ruang serta cara berkomunikasi politik baru, tanpa mampu dikendalikan oleh kekuasaan tertentu. Dan karena sifatnya yang terbuka, komunikasi cyberspace dewasa ini dianggap sebagai bentuk komunikasi yang paling demokratis dan transparan di segala bidang, khususnya pemerintahan.

Saya lantas membayangkan, presiden Republik Indonesia yang tengah memberikan pidato pada saat perayaan ulang tahun kemerdekaan. Namun pidato tersebut tidak dilakukan di depan para tamu undangan, melainkan melalui fitur video Skype. Atau reality show mengenai pekerjaan sehari-sehari seorang presiden dalam bentuk web series. Mungkinkah hal tersebut akan terjadi?

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*