Darurat Demokrasi, Kelakar Sebuah Negeri

darurat demokrasi

Bila keagungan nalar mengalami degradasi, manakala kelompok kajian ilmiah serta cara berpikir kritis sudah tidak boleh melakukan partisipasi, maka sesungguhnya darurat demokrasi itu telah benar terjadi. Sebuah kelakar di negeri yang konon terkenal santun dalam bervariasi?

Bulan September hampir saja memasuki masa penghujung. Bulan-bulan penuh murung, bagi para korban keganasan sejarah yang seolah tak kunjung henti berkabung. Sungguh, polemik dan konflik itu senantiasa membuat kita menjadi bangsa limbung. Di saat masih banyak permasalahan lumbung yang sesungguhnya juga masih belum benar-benar rampung.

Rekonsiliasi yang tidak pernah benar menjadi esensi. Friksi yang telah berubah menjadi sebuah adiksi, demi memanfaatkan nilai-nilai atensi. Tidak sadarkah kita bahwa situasi ini merupakan wujud dari epidemi. Yang dalam banyak hal kerap memakan korban para buruh tani. Walaupun kerugian juga dirasakan benar oleh anak-anak revolusi serta anak-anak santri.

Jangan diam!

Mari kita bersama mempersembahkan epigram, untuk sang pedoman. Yakinlah bahwa ia memang sungguh budiman. Yang tidak akan membiarkan maraknya kegundahan. Yakinlah bahwa ia bukan seorang tiran. Yang benar mengamalkan nilai-nilai para ajengan. Yakinlah, bahwa itu semua bukan khayalan. Karena dengan keyakinan, kita bisa mengamalkan ajaran perubahan.

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

Comments

comments